Ma’rifatullah dengan Mentafakuri “Hujan”

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab
Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash- Shahihah berderajat hasan).

Sudah sekian lama di daerah kami tak turun hujan padahal kota ini sangat terkenal dengan sebutan kota hujan, meski kami kekurangan air tapi alhamdulillah nasib kami masih jauh lebih baik di banding saudara kami yang lain, yang berada diluar daerah sana kekeringan hingga harus memikul air dengan jarak berkilo-kilo meter itupun antri bahkan berebut hanya sekedar untuk kebutuhan dapur. Betapa air dibutuhkan seluruh makhluk hidup di bumi sebagai sumber kehidupan.

Lama ditunggu akhirnya kami lihat langit mulai gelap sepertinya ia tak mampu lagi membawa beban yang dipikulnya kami harap ia menjatuhkan tetes-tetes air kehidupan disini atau mungkin ia masih mencari tempat yang lain yang Alloh perintahkan untuk menghidupkan bagian isi negeri tersebut.
Alhamdulillah akhirnya hujan pun turun “Allohuma shoyiban nafian” sambil menikmati derasnya hujan kami terpikir “bagaimana bisa air yang begitu banyak bisa berada di atas langit” padahal jika hujan deras dalam beberapa jam saja kota jakarta bisa kebanjiran, bisakah kita bayangkan bagaimana air yang bisa merendam kota jakarta dan yang lainnya bisa melayang diatas langit tanpa sayap.

Seandainya Alloh menyatukan air hujan yang jatuh di bumi kedalam satu tempat niscaya ia takkan mampu di tampung hanya dengan satu danau, tapi bagaimana air yang begitu banyak dengan volume yang tak terhingga bisa berada di udara tanpa sayap atau penampung apapun agar berpindah dan dicurahkan dari satu tempat ketempat yang lainnya yang Alloh kehendaki.

Tidak kah terpikir adakah tempat layaknya laut atau danau di udara yang mampu menampung volume air yang tak terhingga itu? Bukankah hanya sekedar awan lembut selembut kapas bahkan tak mampu untuk kita sentuh yang Alloh jadikan sebagai tempat menyimpan jutaan kubik air di atas langit, siapakah lagi yang mampu menjadikan awan sebagai wadah air dilangit hingga tatkala air itu jatuh kebumi bumi pun tak mampu menampungnya dan menjadikannya luapan banjir.


Laa hawla walaa quwata illa billah.
Wahai Robb semesta alam ubun-ubun kami ada ditanganMu,
Tidaklah ada sekutu yang pantas bagiMu, betapa sesatnya orang-orang yang telah menyekutukanMu.
Adakah pantas manusia bodoh itu mensejajarkanMu dengan patung-patung batu dan kayu yang mereka sembah dan mereka muliakan.
Adakah sesembahan mereka itu mampu membuat seperti apa yang Engkau buat, bahkan sesembahan mereka itu dibuat oleh tangan-tangan para penyembahnya sendiri.
Bukankah ini kesesatan yang nyata bahkan lebih sesat di banding binatang.
Ya Alloh berikanlah kami kemampuan tuk senantiasa mengenalMu (ma’rifatullah), mengingatMu (dzikrullah) dalam keadaan apapun dan lindungilah kami dari jahatnya syahwat dan oang-orang kafir serta masukkanlah kami dalam golongan hambaMu yang sholih aamin.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *