Musik Pengaruhi Kecerdasan Anak

“MUSIK” Antara Trend Hidup Masa Kini dan Dakwah Syetan

Hidup ini terasa hampa tanpa musik” sepenggal kalimat ini sering kita dengar terlontar dari beberapa bibir fasik pecinta musik yang memang sudah sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia disetiap saat dan waktu, kapanpun dan dimanapun hampir tak pernah luput dari hal yang satu ini ibarat ada gula ada semut sampai-sampai mereka ada yang meyakini tak bisa hidup tanpa musik, bila yang satu ini tak ada seolah semangat hidupnya hilang dan tak bergairah.

Sebagian orang tertentu di beberapa tahun terakhir meyakini dan bahkan mereka mengkampanyekannya bahwa musik bisa mempengaruhi daya pikir anak-anak menjadi lebih cerdas. Benarkah pernyataan ini atau hanya sekedar propaganda orang-orang tertentu untuk menjebak manusia agar semakin jauh dari ketenangan hidupnya dengan mencintai musik yang tidak lain adalah Qur’annya syetan lalu meninggalkan petunjuk ilahiah yang menunjuki manusia pada ketenangan abadi dunia dan akhirat yaitu Al Qur’an dan Islam.
Ada seorang dokter yang mengatakan bahwa keadaan janin/bayi di dalam kandungan itu sangat tergantung pada keadaan ibunya karena seluruh makanan dan asupan gizi bayi di terima darinya jadi jika si ibu hamil itu mengalami stres maka akan mengganggu asupan gizi yang diterima si bayi. Maka jika dalam keadaan stres seorang ibu hamil akan meningkat kadar renin angiotensin, yang memang sebelumnya sudah meningkat pada wanita hamil sehingga akan mengurangi sirkulasi rahim-plasenta-janin. Penurunan sirkulasi ini menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan otak dan kecerdasan janin pun terhambat. Hambatan semacam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu terhindar dari stres. Selanjutnya ia berkata bahwa musik klasik bisa menghilangkan tingkat stres.
Jadi inti dari masalah di atas adalah stres yang berakibat pada bayi lalu apakah obat dari stres itu hanya musik? Ini adalah syubhat batil yang di lontarkan para pecinta musik untuk membenarkan apa yang ia yakini. Padahal dalam kenyataannya belum ada pembuktian secara ilmiah bahwa ada seorang anak yang cerdas akibat seringnya mendengarkan musik.
Di dalam islam kita meyakini pendidikan bagi ibu hamil itu sangat penting seperti dianjurkannya banyak berzikir kepada Allah agar lebih merasa tenang dan tenteram dan ini adalah salah satu cara untuk menghindarkan stres karena semua yang ia perbuat bisa mempengaruhi janin yang dikandungnya contohnya makanan, makanan yang harus dimakan seorang muslim harus yang halal dan thayib (baik) karena intisari makanan ini akan menjadi sel-sel darah yang akan menjadi makanan bagi si janin jadi bagaimana halnya jika makanan yang ia makan adalah makanan yang haram. Jelas ini akan mempengaruhi keadaan si bayi ketika ia lahir.
Pada kehidupan umum banyak yang sangat menghindarkan musik dan kebisingan lainnya mereka lebih merasa tenang, rileks, fresh dan lebih jernih berpikir ketika berada dalam keheningan bahkan mencari kedamaian dengan pergi kegunung-gunung, vila dipinggiran kota hanya untuk melihat indahnya pemandangan alam yang jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar suara yang membuatnya penat, bosan dan stres ia lebih merasa senang dengan keadaan ini untuk mengembalikan kesegaran pikiran dan tubuhnya. Islam justru telah memberikan solusi tentang hal ini agar melepaskan diri beberapa saat dalam keseharian waktu kerjanya untuk zikir dan shalat sebagai solusi penyegaran kembali jasmani dan rohani.
Mari kita bandingkan pada anak-anak yang mendapat pendidikan secara islami dari orangtua mereka yang sangat berhati-hati sekali menghindarkan anak-anaknya dari hal diatas seperti musik, televisi dan pergaulannya. Justru kebanyakan dari anak-anak semacam ini jauh lebih cerdas bukan hanya dari sisi intelektual tapi juga sisi spiritual. Selain cerdas anak-anak yang mendapat pendidikan islami juga lebih terlihat dewasa dan berjiwa tenang tidak cengeng dalam mengahadapi masalah. Terbukti anak-anak ini memiliki daya hapal yang kuat sehingga lebih mudah dalam mengingat pelajaran yang ia dapatkan karena pikirannya tidak disibukkan dengan berbagai hal yang seharusnya tidak menjadi bahan pikirannya seperti musik, televisi dan sebagainya. Para pendidik menanamkan kecintaan anak-anaknya pada Al Qur’an dengan cara mendengar, membaca dan mengajarinya untuk melafadzkan hingga banyak anak mampu menghapal Al Qur’an pada usia dini. Ini membuktikan bahwa seorang anak itu cerdas bukan karena musik atau yang lainnya yang mempengaruhi kecerdasannya melainkan peranan orangtua dalam memenej pendidikan anak-anaknya.
Hingga terungkaplah kebatilan yang meyakini bahwa musik bisa mempengaruhi kecerdasan anak. Sedangkan jika kita lihat definisi musik itu sendiri adalah kesatuan dari kumpulan suara melodi, ritme dan harmoni yang dapat membangkitkan emosi. Menurut Ibnu Qayyim kecenderungan orang-orang yang menyukai musik adalah karena adanya penyakit di dalam hatinya yang selalu cenderung condong menyenangi kefasikan dan kemaksiatan maka orang semacam ini ketika mendengarkan musik akan sangat merasa senang dan tubuhnya pun dengan seketika bereaksi karenanya. Apabila dilantunkan sebuah nyanyian niscaya akan masuklah nyanyian itu dengan segera ke dalam pendengaran dan hatinya, terbesit dari kedua matanya ungkapan perasaannya, kakinya bergoyang-goyang, menghentak-hentak ke lantai, bibirnya berkata-kata, tangannya bertepuk gembira, dan tubuhnya meliuk menari-nari, api syahwat kerinduan dalam dirinya pun memuncak. Ya inilah definisi musik tadi yang sedang kita bahas. Bahkan mungkin mereka ini adalah orang-orang yang telah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan melalui kalam-Nya dan melalui sunnah Rasul-Nya,” Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutera, khamr, dan alat musik” (HR. Bukhari)
Jelaslah orang-orang semacam ini sangat senang dengan kefasikan dan kemaksiatan maka tatkala mereka mendengar Al Qur’an (ketika dibacakan) mereka tak merasakan apapun tak pernah terbersit ketenangan dalam hatinya bahkan mereka menghindarinya karena Al Qur’an adalah kebenaran dan ia bertolak belakang dengan apa yang mereka senangi tapi jika keburukan yang datang dengan serta merta hati mereka menyambutnya. Allah berfirman: “Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?”. (QS. Al Hajj: 72)
Sesungguhnya musik dan nyanyian adalah Qur’annya syetan sebagai candu bagi hati yang condong kepada kefasikan dan kemaksiatan dan Allah pun telah memberikan obat stres terbaik bagi mereka yang condong pada kebaikan sebagaimana firman-Nya,”Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah”. (QS. Az Zumar : 23)
Dan firman-Nya,”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” [QS. Ar-Ra’d: 28-29]

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *