POSTER SHALAT BERJAMA’AH LENGKAP

Mohon Maaf Jika Gambar Berukuran Kecil, ini untuk efisiensi loading. Untuk Melihat lebih Besar, silahkan  Klik kanan Pada Gambar dan klik Open Link In New TabHukum, KEutamaan, dan Posisi Shalat BErjama'ah Yang BEnar

Poster Shalat Berjamaah Lengkap

disertai:

  1. Hukum Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Laki-Laki
  2. Keutamaan/Fadhilah Shalat Berjamaah
  3. Anjuran Meluruskan dan Merapatkan  Shaf  Shalat dan,
  4. Posisi Shalat Berjamaah Yang Benar Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

Berikut ini adalah kutipan artikel yang berada dalam poster tersebut!

  • HUKUM SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID BAGI LAKI-LAKI

Shalat berjama’ah lima waktu di masjid adalah wajib bagi laki-laki yang mukallaf (orang yang sudah terkena beban syariat) dan tidak mempunyai halangan syar’i. Hal ini berdasarkan beberapa dalil yang sangat jelas dan shahih dari al Qur’an, Sunnah (hadits) dan juga atsar dari para sahabat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Allah  telah memerintahkan kaum muslimin pada saat dicekam rasa takut untuk tetap shalat berjama’ah.

Allah  berfirman: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), makahendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu hendaklah mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (QS. An Nisaa’:102).

Dalam ayat ini Allah  telah memerintahkan kepada kaum muslimin mengerjakan shalat berjama’ah pada saat perang dimana pada keadaan ini diliputi rasa takut yang mencekam dan kesulitan yang sangat menyusahkan walaupun harus membagi menjadi dua kelompok. Kemudian Allah  memerintahkan kelompok pertama shalat, lalu Allah  pun memerintahkan pada kelompok yang kedua. Oleh karena itu, jika seandainya shalat berjama’ah itu sunnah, maka niscaya keadaan perang adalah alasan yang paling tepat untuk tidak mengerjakannya. Dan jika hukum dari shalat berjama’ah ini fardhu kifayah, niscaya Allah  akan menggugurkannya bagi kelompok kedua karena telah dilaksanakan oleh kelompok pertama. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu wajib bagi setiap muslim laki-laki yang mukallaf.

2. Tidak ada keringanan untuk tidak shalat berjama’ah, bahkan bagi orang buta sekalipun walaupun tidak ada yang menuntunnya dan letak rumahnya jauh dari masjid.

Dari Abu Hurairah  dia bercerita, “Ada orang buta yang mendatangi Nabi  seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid.” Kemudian orang itu meminta kepada Rasulullah  agar beliau memberi keringanan kepadanya sehingga dia bisa mengerjakan shalat fardhu di rumahnya saja. Maka beliau memberi keringanan kepadanya. Ketika orang itu berlalu, beliau memanggilnya seraya bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan adzan shalat?” “Ya,” jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah (seruan adzan itu).” (HR. Muslim).

3. Rasulullah  ingin membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah.

Dari Abu Hurairah   pernah suatu ketika Rasulullah  tidak melihat beberapa orang dalam beberapa shalat, lalu beliau bersabda: “Aku sangat berkeinginan untuk menyuruh seseorang mengerjakan shalat bersama orang-orang (berjama’ah), kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak mengerjakannya, lalu aku perintahkan agar rumah mereka dibakar dengan seikat kayu bakar. Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui bahwa dia mendapatkan tulang yang gemuk (banyak dagingnya), pasti dia akan menghadirinya.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain, “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya pasti mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Aku benar-benar ingin memerintahkan shalat sehingga ia benar-benar didirikan, kemudian aku perintahkan seseorang sehingga ia mengerjakan shalat bersama orang-orang. Kemudian aku bertolak bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar kepada kaum yang tidak ikut mengerjakan shalat jama’ah, lalu aku bakar rumah mereka dengan api”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan tentang wajibnya shalat berjama’ah. Rasulullah  begitu marah dan ingin membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Dengan demikian jelaslah bahwa hukum shalat berjama’ah adalah wajib menurut pendapat yang shahih.

  • KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID

Tidak diragukan lagi bahwa dengan shalat berjama’ah banyak sekali faedah dan keutamaan yang akan di peroleh, baik dari sisi pahala ataupun sebagai syiar Islam. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Shalat jama’ah 27 kali lipat daripada shalat sendirian. Rasulullah  bersabda, “Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR. Bukahri).

2. Menunjukkan bukti keimanan seseorang kepada Allah . Allah  berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk  orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah : 18).

3. “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki di malam gelap gulita menuju masjid bahwa bagi mereka cahaya yang  terang-benderang  di hari kiamat. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi).

4. Allah  akan melindungi pelakunya dari setan. Rasulullah  bersabda, “Tidaklah ada tiga orang yang berada di suatu desa atau pedalaman yang tidak didirikan shalat (jama’ah) di dalamnya melainkan mereka akan dikuasai oleh setan. Oleh karena itu, hendaklah kalian mengerjakan shalat jama’ah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memakan kambing yang berada sendirian.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad).

5. Para malaikat mendo’akan orang yang shalat berjama’ah sebelum shalat dan setelahnya selama dia masih tetap berada di tempat shalatnya, selama dia belum berhadats atau menyakiti orang lain. Hal ini didasari hadits dari Abu Hurairah , “Para malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat dimana dia mengerjakan shalat. Mereka mengucapkan: ‘Ya Allah, sayangilah dia, ya Allah berikanlah ampunan kepadanya, ya Allah terimalah taubatnya, ‘selama dia tidak mengganggu dan tidak berhadats.“ (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Orang yang memiliki kecintaan terhadap shalat jama’ah di masjid akan mendapat naungan Allah  pada hari kiamat kelak. Rasulullah  bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah  dengan naunganNya pada hari dimana tiadak ada naungan kecuali hanya naunganNya semata, yaitu: imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah , seseorang yang hatinya senantiasa terpaut di masjid, … .” (HR. Muttafaq “Alaih). Imam an-Nawawi  mengatakan, “Maksudnya adalah orang yang cintanya benar-benar mendalam pada masjid, dan senantiasa membiasakan diri untuk menghadiri shalat jama’ah di masjid. Dan hal itu bukanlah duduk terus menerus di masjid.” (Syarh an-Nawawi Shahih Muslim, VII/126).

7. Berjalan kaki menuju shalat jama’ah dapat meninggikan derajat, menghapuskan kesalahan dan menghasilkan bebagai kebaikan. Dari Abdullah bin Mas’ud  dia berkata, “Tidaklah seorang bersuci lalu ia melakukannya dengan sebik-baiknya kemudian dia berangkat menuju salah satu masjid melainkan Allah telah menetapkan baginya kebaikan bagi setiap langkah yang diayunkannya, dengannya Dia (Allah) akan meninggikan dirinya satu derajat, serta menghapuskan darinya kesalahan … .“ (HR. Muslim).

Dan masih banyak fadhilah lainnya yang tidak bisa kami sampaikan disini.

  • MELURUSKAN SHAF SHALAT

Dari Ibnu Umar  ra bahwa Rasulullah  bersabda, ”Rapi-kanlah shaf, sejajarkanlah antara bahu, penuhi yang masih kosong (longgar), bersikap lunaklah terha-dap saudara kalian, dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barang siapa yang me-nyambung shaf maka Allah  akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutus shaf maka Allah  akan memutuskannya.”

(HR. Abu Dawud).

Anas  ketika tiba di kota Madinah ditanya, “Apa yang Anda ingkari dari perbuatan kami sejak sepeninggal Rasululla?” Dia menjawab, “Tidak ada perbuatan kalian yang aku ingkari kecuali ketika kalian tidak meluruskan shaf-shaf kalian.” (HR. Bukhari dalam al Shahih no. 724)

“Wahai sekalian hamba Allah! Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan membalikkan wajah-wajah kalian.” (hadits Al-Jama’ah, kecuali al Bukhari).

“Rapatkanlah shaf, dekatkan (jarak) antara shaf-shaf itu dan sejajarkan pundak-pundak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I, dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

  • POSISI SHAF SHALAT

1. Dua Orang laki-laki

Hadits Ibnu Abbas ra3

Apabila imam shalat berjama’ah hanya dengan seorang makmum, maka dia (makmum) disunnahkan berdiri di sebelah kanan imam (sejajar dengannya), sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa  beliau pernah shalat berjamaah bersama Rasulullah  pada suatu malam dan berdiri di sebelah kirinya. Maka Rasulullah  memegang kepala Ibnu Abbas dari belakang lalu memindahkan di sebelah kanannya. (Muttafaq ‘Alaih)

“Aku shalat bersama Nabi  disuatu malam, aku berdiri di samping kirinya, lalu Nabi  memegang bagian belakang kepalaku dan menempatkan aku disebelah kanannya.”. (HR. Bukhari).

2. Dua Orang Makmum atau Lebih

Apabila makmum terdiri dari dua orang, maka keduanya berada di belakang imam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik  berkata, “ Rasulullah shalat maka saya dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya dan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (Muttafaq ‘Alaih). >> Hadits ini menunjukkan posisi makmum wanita dalam jama’ah.

Hadits Jabir

“Nabi  berdiri shalat maghrib, lalu aku datang dan berdiri  dan berdiri disamping kirinya. Maka beliau menarik diriku dan dijadikan disamping kanannya. Tiba-tiba sahabatku datang (untuk shalat), lalu kami berbaris di belakang beliau, dan shalat bersama Rasulullah  ( HR. Ahmad).

3. Shalat berjamaah Wanita  dua Orang

Sama seperti posisi seorang laki-laki dengan seorang laki-laki yakni disebelah kanannya, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas.

4. Shalat berjamaah Wanita

“Bahwa Aisyah shalat menjadi imam bagi kaum wanita dan beliau berdiri di tengah shaf.” (HR. Baihaqi, Hakim. Daruquthni dan Ibnu abi Syaibah)

5. Jama’ah laki-laki dewasa, anak-anak dan wanita

“Bahwa Nabi  menjadikan (shaf) laki-laki di depan anak-anak, anak-anak di belakang mereka sedangkan kaum wanita di  belakang anak-anak.” (HR. Ahmad).

Dilarang berdiri di belakang shaf sendirian

Diriwayatkan oleh Wabishah bin Mi’bad , bahwa Rasulullah  melihat seseorang yang shalat dibelakang shaf sendirian, maka beliau memerintahkan untuk mengulang shalatnya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi  dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Dan pada riwayat Thalq bin Ali  ada tambahan, “Tidak ada shalat bagi orang yang bersendiri di belakang shaf.”

Mengisi celah yang kosong

Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah beliau bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi celah yang ada pada shaf maka Allah akan mengampuni  dosanya.” (HR al Bazzar dengan sanad hasan)

Bagi anda yang ingin mendapatkan poster tersebut bisa menghubungi 0813 1707 4167 dgn Ust. Qomaruddin bisa melayani partai besar dan kecil.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *