Pulang kampung yang sesungguhnya

Mulih ka desa….

Sudah menjadi tabi’at dan fitrah seorang manusia jika ia rindu kepada kampung halamannya apalagi disana terdapat keindahan, kedamaian, ketentraman dan berbagai macam kenangan masa lalu yang indah.

Jika kita renungkan maka pada hakikatnya hampir tak ada satu pun orang yang tidak rindu dengan tempat asalnya (kampungnya). Kemana pun dan berapapun lamanya ia pergi namun kerinduan untuk pulang ke kampung halamannya menjadi suatu kerinduan dan ketentuan yang tak bisa dipungkiri.

Saudaraku tahukah anda bahwa sesungguhnya kampung halaman sejati yang hakiki bagi seorang manusia adalah surga.

Surga adalah kampung halaman manusia. Seorang yang berakal tentu merindukan kampung halamannya yang penuh dengan kenikmatan. Maka dunia ini bukanlah tempat tinggal yang asli. Manusia di dunia berkedudukan seperti orang asing. Sebagai orang asing semestinya tidak terpedaya dengan kehidupan dunia lupa akan kampung halamannya.

Sesungguhnya manusia (Adam) memulai kehidupannya di surga karena Allah yang memerintahkannya untuk tinggal di surga sebagai tempat baginya dan anak keturunannya namun kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan dan agar mereka rindu kepada kampung halamannya yang penuh kenikmatan dengan segala kemudahan yang abadi sejati dan hakiki, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupan dunianya. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya serta ketetapan yang pasti dari Allah SWT sebelum semuanya ini tercipta.

Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam ‘alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak.

Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga segbagai kampung halamannya. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran dengan firman yang sama, firmanNya: “Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?”(QS. Yusuf:109, QS. Al Anam:32, QS. An Nahl:30, QS. Al Araaf:169)

Persiapkanlah semua untuk kampung halamanmu yang abadi bekal dan oleh-oleh yang akan engkau dan keluargamu nikmati hasil dari usahamu selama ini untuk yang demikian itu hendaknya setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Inilah pulang kampung sesungguhnya bagi seorang muslim

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *