Ramadhan sebagai mizan

Ketika bulan mulia ini datang maka berbondong-bondong manusia menyambutnya dengan berbagai macam ekspresi, di antara mereka ada yang dengan senang menyambutnya bahkan mereka tak sabar untuk segera memasukinya bak sebuah seorang yang lapar duduk menghadap sebuah hidangan serba lezat dan nikmat. Di antara mereka pun ada yang biasa-biasa saja ketika Ramadhan datang bahkan lebih buruk lagi ada sebagian di antara mereka yang tidak senang jika Ramadhan ini datang.

Termasuk yang  manakah diri kita di antara macam-macam orang di atas?

Ramadhan sebagai mizan (timbangan/tolok ukur)

Demikianlah Ramadhan menjadi sebuah mizan bagi setiap orang ketika memasukinya tahukah anda bahwa ketika seorang mukmin memasuki Ramadhan dengan penuh rasa gembira bahwa ia akan mendapatkan suatu hidangan istimewa yang Allah anugerahkan baginya untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya dan iapun merasa takut serta cemas jika ketika memasuki Ramadhan tidak mampu memanfaatkannya walau hanya sedikit saja yang mana ia akan menjadi manusia yang paling menyesal ketika Ramadhan berlalu namun ia tak mendapatkan apapun dari Ramadhan itu. Maka orang-orang seperti mereka menjadikan Ramadhan sebagai mizan (tolok ukur) meningkat atau menurunnya tingkat keimanan mereka sendiri.

Adapun jenis manusia selain orang-orang yang beriman maka dengan memasuki Ramadhan maka akan semakin menunjukkan eksistensi kedurhakaan dan kekafiran mereka. Apa yang mereka rasakan ketika Ramadhan datang? Mereka benar-benar merasa dongkol karena semua kemaksiaatan yang mereka lakukan harus dikurangi atau bahkan dihentikan karenanya. Tidakkah anda lihat apa yang mereka dakwahkan (syiarkan) ketika hari pertama Ramadhan? Dengan bangga mereka menenteng sebatang rokok atau memakan makanan sambil berjalan kesana kemari serta mengatakan perkataan yang melecehkan syariat shaum (puasa) Ramadhan walaupun pada dzahirnya mereka mengaku seorang muslim namun pada hakikatnya mereka membenci dan melecehkan syariat Islam itu sendiri wal iyadzubillah.

Bila kita dalami maka pada umumnya orang-orang kafir (nonmuslim) lebih menghargai shaum (puasa) Ramadhan, banyak sekali bukti ketika mereka bercampur dalam suatu lingkungan kerja mereka tidak berani mengumbar dan mempertontonkan diri mereka ketika mereka menyantap makanan, minuman dsb, namun yang katanya seorang muslim justru lebih berani dan lebih merasa bangga ketika ia tidak berpuasa serta memperliahtkannya kepada semua orang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *