Suratku untukmu wahai sayang, orang ter-istimewa yang aku cintai …

Entah dengan cara apa aku harus mengungkapkan semua gemuruh di dalam dadaku ini, terlalu penuh sesak hingga begitu berat untuk di katakan, bagaikan benang kusut yang sangat susah tuk diuraikan. Namun kan ku coba tuk menguraikannya melalui kertas putih ini, paling tidak untuk mengurangi semua beban yang kurasakan.

Surat ini aku tujukan kepada dia yang istimewa bagiku dan bagimu…

Wahai sayang, sesungguhnya engkau pun tahu bahwa tiada sesembahan yang hak untuk di ibadahi selain Alloh yang Maha Tinggi, Dia-lah yang telah menciptakan aku dan kamu begitupun apa-apa yang ada di langit dan bumi atau yang ada di antara keduanya. PengetahuanNya meliputi seluruh makhlukNya tiada satupun makhluk yang hidup baik itu terlihat oleh mata atau tidak, melainkan padaNya-lah semua bergantung dan Dia-lah yang mengatur juga memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Tak ada sesuatupun yang mampu melakukannya kecuali Dia dan tak ada yang setara denganNya baik dalam ilmu, nama dan sifat-sifatNya.

Sayang, engkaupun tahu bahwa tak ada jalan kehidupan terbaik yang dijalani seorang pun di dunia ini kecuali hanya dengan Islam. Namun ingatlah bahwa tiada Islam kecuali apa-apa yang telah di bawa dan disampaikan oleh manusia dan hamba terbaik kekasih Alloh ia adalah pemimpin para Nabi dan Rasul pilihan, manusia terbaik di muka bumi ini tak ada sebelumnya dan takkan pernah ada sesudahnya ia adalah Habibina Muhammad Bin Abdullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Dan ketahuilah wahai sayang, bahwa setiap aturan pasti ada cara atau metode dalam menjalankannya. Wahai sayang, tahukah engkau siapakah manusia yang patut menjadi teladan dalam menjalani syari’at Islam? Engkau benar, mereka adalah para sahabat Nabiyullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah berguru langsung kepadanya.

Wahai sayang, tahukah engkau bagaimana mereka meneladani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam? Ketahuilah bahwa tak ada satu amalan pun yang paling berat kecuali mereka tunaikan dan tak ada satu amalan pun yang paling kecil atau ringan melainkan mereka tak pernah meninggalkannya. Hingga engkau lihat sayang! Tegak lah Islam yang indah ini dan semoga kita termasuk orang-orang yang merasakan manisnya Islam, Insya Allah.

Sayang, ku kira engkaupun telah tahu bahwa dunia ini bukanlah tujuan hidup kita, kehidupan hakiki yang sesungguhnya hanyalah hidup abadi kita setelah kematian kita di dunia ini. Akhirat, ya kehidupan sebenarnya bagi kita adalah akhirat sayang! Lalu apa yang telah kita siapkan untuk kehidupan itu? Demi Allah, sesungguhnya kehidupan ini  telah terlalu banyak melalaikan kita atau bahkan mungkin justru kita yang telah melalaikan kehidupan kita sendiri.

Wahai sayang, aku tahu saat ini kita hidup di dunia dan tak mungkin seseorang bisa hidup di dunia ini sedangkan dia tidak mangambil sedikitpun sesuatu dari dunia itu sendiri bahkan hanya untuk sekedar sesuap makanan. Tapi ingatlah sayang! Kita diciptakan bukan hanya untuk makan-makan dan bersenang-senang menikmati kehidupan dunia ini lalu kita pun mati.

Sayang, kita hidup di dunia maka kitapun butuh dunia namun bukan berarti menjadikan dunia sebagai tujuan kehidupan hakiki kita.

Wahai sayang, aku tahu terkadang  engkau mengeluh dengan kehidupan dunia yang hanya pas-pasan ini atau bahkan kurang, tapi janganlah engkau menjerumuskan dirimu untuk bermaksiat kepada Allah hingga engkau pun memaksa aku untuk bermaksiat kepada Allah. Qana’ah-lah dan bersabarlah sayang! Karena sesungguhnya penderitaan ini hanyalah sekejap usia dunia.

Wahai sayang, aku tidak merasa takut dan khawatir jika engkau kelaparan atau bahkan mati selama engkau berpegang teguh dengan iman, namun aku akan selalu takut jika engkau hidup dalam kecukupan namun engkau ingkar dan kufur kepada Rabb-mu hingga engkau meninggal dalam keadaan yang hina lebih hina dari seekor binatang. Bahkan kehidupanmu setelahnya jauh akan lebih sulit karenanya.

Sayang, bergelimang harta bukanlah berarti jaminan seseorang akan bahagia dalam hidup baik di dunia apalagi di akhirat kelak, bahkan mungkin kebanyakan dari mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan. Tidak kah engkau lihat betapa jauhnya mereka dari ketenangan dan tentramnya hidup? Mereka setiap saat dalam kegelisahan memikirkan akan hartanya serta takut akan kehilangannya.

Wahai sayang, ketahuilah bahwa sesungguhnya tentramnya hidupmu adalah dengan iman dan takwamu kepada Allah. Dengan taqwa, engkau tak kan pernah merasa takut jika harta akan lenyap darimu, engkau tak kan pernah takut jika engkau miskin, engkau tak kan pernah takut jika engkau harus hidup sendiri karena engkau memiliki Allah yang Mahakaya yang memiliki semua itu hingga engkau tak pernah merasa kekurangan dan ketakutan.

Wahai sayang, jadilah engkau hamba yang selalu taat kepada Allah dan takutlah pada azab dan murkaNya.

Tahukah engkau wahai sayang! ketaatanmu pada orangtuamu adalah bentuk ketaatanmu keapada Allah.

Ketaatanmu pada suamimu adalah bentuk ketaatanmu kepada Allah.

Kesungguhanmu dalam menjaga amanah keluargamu adalah bentuk ketaatanmu kepada Allah.

Senyuman bahagia suamimu adalah surgamu di dunia dan di akhirat.

Engkau tidak akan selamat dari murka Allah ketika hati suamimu tersakiti oleh perilakumu.

Sayang, kebahagiaan suami dan keluargamu adalah surga tak ternilai dalam kehidupanmu.

Bantulah suamimu dalam mengabdi kepada Allah dan janganlah sekali-kali engkau menjadi beban pemberat baginya dalam beribadah kepada Allah.

Sayang, kematian itu terlalu dekat kurasa… Aku ingin mempersembahkan yang terbaik dalam hidupku dan mempersiapkan rumah baruku yang lebih indah di akhirat kelak, dan semoga Allah melimpahkan RahmatNya untukku memilkinya…. Dengarlah dan taatlah, aku tunggu engkau di depan pintu rumahku, insya Allah…

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *