Testimoni Nyata Herbal Anti Kanker Paling Ampuh

(Bukti Ilmiah & Empiris)

“Semula saya bukan orang yang percaya herbal, tapi melihat keampuhan daun sirsak mengatasi kanker, saya kini percaya herbal,” kata Hendarlin.

Bentuk kepercayaan Hendarlin terhadap herbal antara lain dengan menanam sirsak Annona muricata di halaman depan dan belakang rumahnya. Sembilan pohon beragam umur itu tumbuh subur. Selain untuk keperluan sendiri, ia juga memberikan daun tanaman anggota famili Annonaceae itu kepada kerabat dan tetangga. Hendarlin sendiri yang menanam bibit sirsak yang kini tumbuh 1 – 1,5 meter.

Pensiunan sebuah badan usaha milik negara itu menanam sirsak untuk mengobati kekecewaannya yang tak kunjung sirna. Dua tahun silam, istri Hendarlin, Tuti, berpulang ke pangkuan Tuhan setelah tujuh tahun berjuang melawan sel kanker payudara. Hendarlin menempuh berbagai jalan untuk menggapai kesembuhan istrinya. Namun, akhirnya seperti peribahasa Latin: homo proponit, sed Deus disponit, manusia berupaya, Tuhan yang menentukan.

Sesal kemudian

Saat kerabatnya positif kanker payudara, setahun setelah kematian istri, Hendarlin memberikan daun sirsak. Kondisi kesehatan kerabatnya terus membaik dan akhirnya sembuh. Sejak itulah ia percaya khasiat herbal, terutama daun sirsak sebagai antikanker. Namun, di sisi lain, betapa menyesalnya Hendarlin. Ia merasa “gagal menyelamatkan” istrinya. “Saya sangat kehilangan dia. Sungguh ia istri yang baik dan sulit untuk mencari orang seperti dia,” kata Hendarlin sembari berlinang air mata.

Penyesalan berkepanjangan itu karena Hendarlin merasa obat kanker ternyata murah harganya dan relatif mudah untuk mendapatkannya. Namun, karena ketidaktahuannya, tentu saja alumnus Universitas Indonesia itu tak dapat memberikan daun yang kaya senyawa acetogenins kepada belahan jiwa. Senyawa itulah yang bersifat antikanker dan bekerja dengan menekan produksi adenosina trifosfat (ATP) di mitokondria. Akibatnya sel kanker kehabisan energi dan tamatlah riwayatnya.

Reni Hoegeng, anak Jenderal Hoegeng, mantan kepala Kepolisian, sejak Januari 2011 juga rutin mengonsumsi rebusan lima daun sirsak. Frekuensi konsumsi sekali sehari. Ia mengantisipasi serangan penyakit maut karena kerabatnya mengidap kista. Popularitas daun sirsak sebagai herbal antikanker memang menanjak pada empat bulan terakhir. Banyak orang kini mengonsumsi rebusan daun sirsak untuk mengatasi atau mencegah kanker, tumor, dan kista.

Padahal, semula masyarakat hanya memanfaatkan daging buahnya yang manis-masam dan kaya antioksidan itu. Daun sirsak hampir “tak terdengar” sebagai herbal antikanker, pada awalnya. Namun, kini kian banyak masyarakat memanfaatkannya. Meluasnya penggunaan daun sirsak mungkin karena masyarakat mudah memperoleh sediaan itu, murah, dan yang penting mujarab. Nelleke Sastromiharjo yang mengidap kanker otak, Titin Suprihatin (kanker payudara), Darma Adhi (kanker usus), dan Ng Tung Hauw (kanker pita suara) hanya beberapa pasien yang membuktikan khasiat daun sirsak.

Kesembuhan atau membaiknya kondisi kesehatan mereka memang bukan semata-mata karena daun sirsak. Kepedulian keluarga dan kerabat turut berperan. Itulah sebabnya di halaman sampul majalah Anda, terdapat pita berwarna lavender alias ungu muda sebagai simbol kepedulian terhadap pasien kanker. Kaum perempuan pada era Romawi kuno memanfaatkan bunga anggota famili Lamiaceae itu untuk mengharumkan air mandi dan pakaian di lemari.

Terkuaknya khasiat daun sirsak sebagai antikanker menambah khazanah pemanfaatan tanaman obat di tanahair. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki 30.000 spesies tumbuhan, lebih dari 9.600 tumbuhan berkhasiat obat. Namun, yang sudah kita manfaatkan baru 350 tanaman obat. Konsumsi daun sirsak secara rutin semoga seperti makna kata lavender –   mencuci atau membasuh. Biarkan daun sirsak “membasuh” luka dan penyakit para pasien. (Sardi Duryatmo/Peliput: Tri Istianingsih)

sumber : Trubus Online

http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5277:daun-sirsak-memang-antikanker&catid=81:topik&Itemid=52

Daun Sirsak Taklukan Benjolan Ganas di Gusi (Kanker Mulut)

Cetak E-mail
Jumat, 15 April 2011. Dari sebuah masjid di bilangan Jakarta Barat terdengar sayup-sayup suara azan nan merdu. Pelantunnya Sadiyo. Sebulan sebelumnya, berbicara saja lelaki 79 tahun itu tak sanggup.Tiap berusaha berbicara, darah segar mengucur dari mulut Sadiyo. Darah itu keluar dari benjolan di gusi. Derita itu ia alami sejak pertengahan 2010. Gejalanya bermula saat 3 gigi seri atas Sadiyo goyang. ”Kami menduga hal itu wajar karena Bapak sudah sepuh,” ujar Sri Hartati, putri sulung Sadiyo. Namun, dugaan itu menjadi kekhawatiran saat gusi Sadiyo tiba-tiba mengucurkan darah segar saat berbincang-bincang. Pendarahan cukup parah karena darah yang terkumpul mencapai 1 ember kecil.Setelah pendarahan berhenti, gusinya serasa menebal dan muncul benjolan mirip bisul. Pendarahan berlangsung beberapa kali. Tiap berhenti, benjolan itu terasa lebih besar. Bahkan setelah 2 bulan, benjolan itu membuat Sadiyo sulit mengatupkan mulut. Berbicara dan makan pun sulit. Untuk makan, Hartati menyiapkan jus buah-buahan dan makanan yang serba dihaluskan.

Kanker mulut

Khawatir kondisi itu makin memburuk, Hartati membawa bapaknya ke rumahsakit untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan dokter, Sadiyo menderita kanker mulut stadium 2. Hasil diagnosis dokter itu disembunyikan dari Sadiyo. ”Saya ingin pikiran Bapak tetap tenang,” tutur Hartati. Sepengetahuan Sadiyo, ia hanya menderita semacam bisul di gusi. Dokter hanya memberikan obat yang diminum sebulan sekali agar tulangnya kuat dan mengurangi pendarahan. ”Kanker mulut dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok, makanan karsinogenik misalnya yang digoreng atau dibakar, serta radikal bebas,” tutur dr Hafuan Lutfie, dokter di Jakarta Selatan.

Orang yang dulu biasa merokok tapi kemudian berhenti pun berpeluang terkena kanker. Dua pertiga dari kasus terjadi pada laki-laki. Hartati dan saudara-saudaranya tidak tinggal diam. Sambil terus memberikan obat dari dokter, mereka mencari beragam alternatif penyembuhan. Pada awal 2011, Hartati mengenal terapi daun sirsak dari sebuah seminar. Toh, karena belum pernah melihat atau mendengar sendiri pasien kanker sembuh dengan daun sirsak, mereka urung memberikan pengobatan itu pada Sadiyo.

Suatu ketika Hartati kembali mendiskusikan upaya penyembuhan dengan daun sirsak kepada adik ketiganya, Nurhayati. Kebetulan Nurhayati memiliki pohon sirsak di halaman rumah di Bogor, Jawa Barat. Saat itulah sang ayah mendengar pembicaraan mereka. ”Namun, kami tetap tidak menyinggung-nyinggung soal kanker,” ujarnya. Tanpa disangka, Sadiyo menyutujui ide kedua putrinya itu.

15 lembar

Sejak itu Hartati rutin memberikan air rebusan daun sirsak. Sebanyak 15 lembar daun sirsak direbus dalam 2 gelas air dengan api kecil hingga menjadi segelas air. Untuk merebusnya, Hartati menggunakan kuali tanah liat. Rebusan itu ia berikan tiap pagi dan petang. ”Sekali rebus hanya saya berikan untuk sekali minum,” ujarnya.

Tiga hari mengonsumsi rebusan daun Annona muricata itu, Sadiyo merasakan mulutnya terasa lebih ”enteng”. Namun, sepekan berselang tubuhnya panas sekaligus menggigil. Hartati membawa bapaknya ke Rumahsakit Dharmais. Di sana terungkap bahwa kadar haemoglobin dalam darah Sadiyo di bawah 7 g/dl, kadar normal 13 – 17 g/dl. Sayang, rumahsakit itu penuh. Sadiyo pun dibawa ke rumahsakit lain.

Di rumahsakit kedua dokter memberi Sadiyo obat demam berdarah. Dokter juga menginfus Sadiyo untuk memberikan asupan nutrisi. Pada saat bersamaan Hartati membaca artikel tentang efek samping daun sirsak. Ia mengambil kesimpulan bahwa panas dingin yang dialami Sadiyo hanyalah efek samping konsumsi daun sirsak.

Ia pun meminta dokter menghentikan pengobatan. ”Dokter mewanti-wanti bahwa hal itu bisa membahayakan Bapak,” ujar Hartati. Namun, 2 hari berselang keyakinan Hartati terbukti. Panas dingin itu sirna. Kini giliran diare yang mendera Sadiyo. Kali ini pun Hartati yakin bahwa diare itu hanya sebagai bagian efek samping konsumsi daun sirsak. Dan sekali lagi keyakinannya terbukti. Diare berhenti dengan sendirinya. Selama 3 hari di rumahsakit itu, dokter akhirnya mengizinkan pemberian daun sirsak. Pengobatan lain tidak diberikan. Hanya infus yang tetap dipertahankan.

Sebulan

Setelah pulang, perlahan-lahan kondisi Sadiyo membaik. Benjolan di gusi mengecil secara bertahap. Setelah sebulan mengonsumsi daun sirsak benjolan itu rata dengan gusi. Namun, jaringan bekas benjolan masih terlihat lunak. Sadiyo pun merasa lebih segar dibanding sebulan sebelumnya. Jumat 15 April itu kali pertama ia bisa melantunkan azan lagi sejak menderita kanker mulut. Menurut Hafuan kondisi seperti dialami Sadiyo memang menunjukkan perkembangan baik. “Namun, harus dilakukan tes laboratorium untuk memastikan. Pasalnya, pada penderita yang sudah sembuh pun sel kanker bisa muncul lagi,” ujarnya.

Hartati bersikap serupa. “Kami bersyukur ada perubahan positif pada Bapak setelah mengonsumsi daun sirsak, tapi kami belum bisa menyatakan beliau sembuh,” ujarnya. Menurutnya ketidaktahuan bapaknya tentang penyakit yang diderita juga berperan dalam membaiknya kondisi tubuh Sadiyo. Dengan begitu pikirannya terhindar dari stres. Hingga kini konsumsi daun sirsak masih dilanjutkan. Seminggu terakhir Hartati juga memberikan gamat. Untuk memastikan kondisi kesehatan Sadiyo, Hartati akan memeriksakan ulang kondisi bapaknya di rumahsakit. (Tri Susanti/Peliput: Desi S Rahimah)

Sumber trubus online

http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5342:benjolan-ganas-di-gusi-pun-takluk&catid=81:topik&Itemid=520

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *